S O S I O L O G I - D A K W A H

Loading...
More Next Blog»

Create Blog Sign In

S O S I O L O G I - D A K W A H BERBAGI NILAI-NILAI ISLAM, SEBAGAI RAHMATAN LIL'ALAMIIN

ABOUT ISLAM

TEMPAT YANG SUCI

Tempat mencharger nilai-nilai Islam

Digital Clock with Islamic Ornament

Senin, 29 April 2013

Ada kesalahan di dalam gadget ini

BETTER INFORMATION

TAHUKAH ANDA? Allah SWT berfirman, “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib (di luar jangkauan indera manusia), serta yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami (Allah) anugerahkan kepada mereka” (QS.2:2-3). Better information (informasi yang lebih baik) bagi setiap manusia, adalah informasi yang mampu menjangkau segala sesuatu yang berada dalam jangkauan indera manusia, maupun yang berada di luar jangkauan indera manusia. Segala sesuatu yang berada dalam jangkauan indera manusia disebut fenomena. Sementara itu, segala sesuatu yang berada di luar jangkauan indera manusia disebut numena. Dengan demikian better information bagi setiap manusia, adalah informasi yang mampu menjangkau fenomena dan numena. Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.2:2-3 diketahui, bahwa informasi yang mampu menjangkau fenomena dan numena adalah Kitab Suci Al Qur’an. Oleh karena itu, sudah selayaknya setiap manusia memiliki, membaca, dan memperhatikan Kitab Suci Al Qur’an, agar ia layak disebut sebagai manusia yang memiliki better information. Bukankah dalam Al Qur’an terdapat informasi, “Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan, di mana segala sesuatu hanya bergantung (berserah diri, berharap, atau memohon pertolongan) padanya. Dia (Allah) tidak beranak, dan juga tidak diperanakkan, serta tidak ada segala sesuatu yang setara (serupa) denganNya” (QS.112:1-4).

George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam "Modern Sociological Theory" (2003) menjelaskan, bahwa ada kecenderungan masyarakat dunia untuk menganggap sosiologi sebagai fenomena Barat. Padahal sesungguhnya Abdulrahman Ibnu Khaldun (1332-1400) telah sejak lama mengajarkan ilmu tentang masyarakat kepada para mahasiswa atau santrinya di Universitas Al Azhar, Mesir, yang merupakan universitas tertua di dunia. Barulah kemudian pada tahun 1842 Auguste Comte (17981857) memberi nama bagi ilmu tentang masyarakat ini dengan sebutan "sosiologi". Pendapat yang senada sebelumnya telah disampaikan oleh Bjorn Eriksson (1993), bahkan dengan tegas Bjorn Eriksson menolak sebutan "Bapak Sosiologi" bagi Auguste Comte. Bagi seorang muslim sebenarnya tidaklah terlalu penting tentang sebutan "Bapak Sosiologi". Seorang muslim lebih mementingkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memperkenankan hadirnya seorang muslim bernama Abdulrahman Ibnu Khaldun, yang memiliki keahlian dalam sosiologi. Dengan demikian setiap muslim perlu memanfaatkan sosiologi dalam menebar nilai-nilai Islam di seluruh dunia, agar setiap manusia berkesempatan menyerap "cahaya" Islam. Agar dunia berkesempatan membangun peradaban Islam, yang memanusiakan manusia.

aristiono nugroho

Untuk menambah terang atau menambah jelas informasi pokok (utama) yang terdapat dalam Kitab Suci Al Qur’an, maka dibutuhkan kesediaan setiap manusia untuk memiliki, membaca, dan memperhatikan Al Hadist, yaitu segenap pernyataan, tindakan, perilaku, atau diamnya Rasulullah Muhammad SAW tentang suatu tema tertentu dalam menjalankan nilai-nilai Islam (Kitab Suci Al Qur’an), yang dibukukan oleh para perawi hadist; seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Apabila masih memiliki rezeki yang cukup, setiap manusia hendaknya memiliki, membaca, dan memperhatikan kitab-kitab klasik tentang nilai-nilai Islam yang ditulis oleh para ulama salaf (ulama terdahulu), seperti “Kitab Ihya Ulumuddin” karya Imam Al Ghazali.

ABOUT DISASTER

Selanjutnya, setiap manusia juga perlu terus menerus mengasah dan berbagi pengetahuan dan informasi tentang nilai-nilai Islam, dengan cara menghadiri ceramah dan diskusi tentang Islam, membaca buku (dunia nyata), atau membaca blog (dunia maya) yang mengagungkan nilai-nilai Islam. Serta ikhtiar lainnya yang dapat memperkuat iman Islamnya.

Selamat berikhtiar, semoga Allah SWT meridhai… Diposting oleh ARISTIONO NUGROHO di 18.34 Tidak ada komentar: Link ke posting ini Label: better, information

Minggu, 11 November 2012

Mengenai Saya

ADZAB ALLAH SWT UNTUK POLISI MALAYSIA

ARISTIONO NUGROHO

Assallamu'alaikum Wr. Wb.

Sahabat-Sahabatku yang baik hatinya, pada kesempatan ini marilah kita berdoa agar Allah SWT berkenan mengadzab polisi Malaysia, yang berbuat dzalim kepada TKI (Tenaga Kerja Indonesia), baik TKI yang laki-laki maupun TKI yang wanita (TKW atau Tenaga Kerja Wanita). Doa ini penting untuk mengurangi jumlah polisi Malaysia yang berbuat dzalim. Termasuk dalam doa ini adalah para pimpinan dan tokoh Malaysia yang mengabaikan kedzaliman polisi Malaysia terhadap TKI. Kita (Bangsa Indonesia) sudah berulang-kali mendengar tentang penembakan semena-mena yang dilakukan polisi Malaysia terhadap TKI yang menewaskan banyak TKI, dan kita juga sudah berulang-kali mendengar perkosaan yang dilakukan polisi Malaysia terhadap TKW. Oleh karena itu marilah dengan segenap kerendahan hati di haribaan Allah SWT, kita memohon agar Allah SWT berkenan menurunkan adzabnya pada polisi Malaysia, dan para pimpinan serta tokoh Malaysia yang mengabaikan kedzaliman polisi Malaysia terhadap TKI. Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan doa kita ini.....

... Diposting oleh ARISTIONO NUGROHO di 21.54 Tidak ada komentar: Link ke posting ini Label: adzab, Malaysia, penembakan, perkosaan, polisi, tewas, TKI. TKW

Saya adalah dosen pada STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional) yang beralamat di Jalan Tata Bumi Nomor 5 Yogyakarta. Saya juga mengajar (Sosiologi Dakwah) di Pesantren Mahasiswa Takwinul Muballighin, yang beralamat di Desa Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2009. Saya juga pernah menjadi anggota Tim Ahli Pertanahan dan Pemetaan Kota, Dinas Pertanahan dan Pemetaan Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2005. Berdasarkan kompetensi saya, saya berupaya mengembangkan Sosiologi Pertanahan di STPN, dan mengembangkan Sosiologi Dakwah di Pesantren Mahasiswa Takwinul Muballighin. Saya memiliki seorang istri bernama Rahimah Ipa Lubis yang selalu mendukung kegiatan saya. Saya juga memiliki ayah, Untung Suharjo (almarhum), dan ibu (Sukartini). Selain itu, saya memiliki ayah mertua, Kasim Manan Lubis (almarhum), dan ibu mertua (Nurjani). Lihat profil lengkapku

Arsip Blog t 2013 (1) t April (1) BETTER INFORMATION

Minggu, 02 September 2012

2012 (28) 2011 (51)

MEMUASKAN DIRI SENDIRI

2010 (65) 2009 (124) 2008 (62) 2007 (33)

Setiap orang berkeinginan memuaskan diri. Keinginan ini wajar dan sah sepanjang tidak berlebihan dan tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Keinginan ini menjadi mulia bila yang bersangkutan sangat ingin melakukan kebajikan. Ia baru merasa puas bila telah berhasil beribadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin (memberi manfaat optimal bagi lingkungan). Ukuran kebajikan yang dianutnya adalah ukuran kebajikan yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an, dijelaskan dalam Al Hadist, dan dinasehatkan oleh para ulama salaf.

ABOUT MOTIVATION

Untuk dapat memuaskan diri dalam melakukan kebajikan, maka seseorang perlu melakukan: Pertama, memanfaatkan segenap kemampuan, keahlian, dan kekuasaannya untuk berbuat kebajikan, yang ditujukan bagi sesama manusia dan makhluk Allah SWT lainnya. Baginya tiada hari tanpa kebajikan. Meski sekecil apapun kebajikan yang mampu ia lakukan pada hari itu. Kedua, berupaya berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku adil bagi dirinya dan orang lain. Ia harus adil pada dirinya, dengan menjadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan hidup, melalui hidup yang dipenuhi ibadah kepada Allah SWT, dan bermanfaat optimal bagi lingkungan di sekitarnya. Ia juga harus adil kepada orang lain dengan memenuhi hak orang lain yang berkaitan dengan dirinya, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Ketiga, bersikap proporsional dalam merespon masalah. Caranya dengan berlatih responsif, serta menghindari sikap pasif, dan reaktif terhadap masalah. Ia harus mampu merespon dalam “dosis” yang terukur atas masalah yang dialaminya. Ia tidak boleh pasif dalam menyikapi masalah, meskipun masalah itu dalam “dosis” yang sangat kecil dan terkesan remeh. Namun ia juga tidak boleh reaktif dalam menyikapi masalah, meskipun masalah itu nampak penting dan sangat berpengaruh atas dirinya. Keempat, mampu bersyukur pada Allah SWT atas semua ketetapanNya yang telah ia terima. Baginya takdir dan ketetapan Allah SWT adalah sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Ia tidak pernah menggerutu atas musibah yang menimpa dirinya, sebaliknya ia berupaya mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap musibah yang dialaminya. Dengan empat hal yang dilakukannya, sebagaimana yang telah diuraikan, maka seseorang berpeluang mampu memuaskan diri dalam hal kebaikan. Kepuasan ini akan membahagiakannya di dunia, dan insyaAllah akan membahagiakannya pula di akherat, karena telah menjadi hamba Allah SWT yang baik. Allah SWT berpesan: “Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik.” Meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertaqwalah kepada Allah, hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (QS.5:100).

Selamat berikhtiar… semoga Allah SWT meridhai. ... Diposting oleh ARISTIONO NUGROHO di 20.36 Tidak ada komentar: Link ke posting ini Label: berperilaku, berpikir, bersikap, bersyukur., bertindak, diri, keahlian, kebajikan, kekuasaan, kemampuan, makhluk, memanfaatkan, memuaskan, proporsional, responsif, sendiri

Minggu, 15 Juli 2012

PENGORBANAN DIRI

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini

HIDUP BERTANGGUNGJAWAB Allah SWT telah berpesan dalam QS.4:34, "Arrijaalu qawwaamuunaa 'alan nisaa-i" (laki-laki adalah pemimpin bagi wanita). Pesan ini tidak mengindikasikan diktatoriat seorang laki-laki, melainkan memerintahkan pelaksanaan sebuah tanggung jawab kepada laki-laki. Seorang laki-laki bertanggung- jawab atas semua yang berada dalam tanggungjawabnya. Bila ia sudah menikah, maka ia bertanggungjawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, bila ada seorang istri yang ke luar rumah untuk mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga, maka perlu dipertanyakan, "Sejauhmana ikhtiar suaminya, dalam memenuhi kebutuhan keluarga?" Demikian pula bila seorang anak ke luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, maka perlu dipertanyakan, "Sejauhmana ikhtiar ayahnya, dalam memenuhi kebutuhan keluarga?" Bila jawabannya adalah, "Ikhtiar suami/ayah belum maksimal!" , maka sesungguhnya laki-laki itu (suami/ayah itu) tergolong lak-laki yang dzalim. Ia telah melanggar QS.4:34, ia telah melalaikan tanggungjawabnya. Ia telah menyebabkan terjadinya eksploitasi istri/anak dalam keluarganya. Dengan demikian ia telah merusak tatanan masyarakat, karena gagal menata dan mengelola keluarganya, yang merupakan bagian dari masyarakat.

ABOUT VIETNAM WAR

“Pengorbanan diri” bukanlah terminologi (istilah) yang mengarah pada kejahatan. Sebaliknya, “pengorbanan diri” merupakan terminologi yang mengarah dan menginspirasi kebajikan. Seorang manusia yang mampu melakukan “pengorbanan diri”, adalah seorang manusia yang mampu menjadikan dirinya sebagai instrumen kebajikan, yaitu orang yang gemar beribadah kepada Allah SWT, dan gemar memberi manfaat optimal kepada masyarakat, atau rahmatan lil’alamiin. Seorang manusia yang mampu melakukan “pengorbanan diri”, adalah seorang manusia yang juga mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya, agar dapat melaksanakan tugas dan fungsi kemanusiaannya. Sebagai manusia, ia wajib beribadah kepada Allah SWT; dan sebagai manusia, iapun wajib berbuat kebajikan kepada sesama manusia. Oleh karena itu, seorang manusia yang siap melakukan ”pengorbanan diri” akan berupaya memperbaiki diri, agar ia dapat mempersembahkan sesuatu yang terbaik yang ada pada dirinya kepada Allah SWT. Caranya: Pertama, membangun kualitas diri. Untuk itu ia akan terlebih dahulu memaknai sukses dengan tepat; agar ia dapat membangun percaya diri yang kuat; karena memiliki basis pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang memadai; sehingga ia berpeluang mengatur dan mengembangkan dirinya. Kedua, meningkatkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya meningkatkan kontribusi kebajikannya; dengan cara memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; sehingga ia dapat mengeliminasi kekurangan, dan mengembangkan kelebihan yang ada pada pemikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya; agar ia dapat menjadi pribadi mandiri yang mampu berkontribusi optimal. Ketiga, mengembangkan kualitas diri. Untuk itu ia akan berupaya mengendalikan diri; dengan tidak menipu, dan tidak merusak diri sendiri dan orang lain; sehingga ia dapat membuktikan kemuliaan dirinya; melalui kebajikan optimal yang dilakukannya. Keempat, optimalisasi kualitas diri. Untuk itu ia akan bersungguh-sungguh mengikhtiarkan nasib baiknya; dengan cara mendidik dan meningkatkan disiplin diri, serta meniadakan kesombongan yang ada pada diri; sehingga dapat meningkatkan dampak kebajikan optimalnya, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Kelima, ekspresi kualitas diri. Untuk itu ia akan menyembunyikan kebajikan yang pernah dilakukannya; agar semakin banyak orang yang tidak mengetahui kontribusi kebajikannya; sehingga ia berpeluang memperoleh ridha Allah SWT; seraya tetap meningkatkan kekhusyuan beribadah kepada Allah SWT, dan meningkatkan kontribusi kebajikan bagi sesama manusia. Setelah menjadi peribadi yang siap melakukan pengorbanan diri, barulah ia layak berharap menjadi bagian dari orang-orang yang dimaksud oleh Allah SWT, dalam firmanNya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah dalam surgaKu” (QS.89:27-30). Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia. Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

... Diposting oleh ARISTIONO NUGROHO di 03.11 Tidak ada komentar: Link ke posting ini Label: diri, ekspresi, kualitas, mengeliminasi., mengembangkan, optimalisasi, pengorbanan

Senin, 09 Juli 2012

MENGEKANG DIRI Seorang manusia yang bersungguh-sungguh berupaya menggapai ridha Allah SWT, tentulah hanya akan mempertuhankan Tuhan yang sesungguhsungguhnya Tuhan, yaitu Allah SWT. Jika ada seorang manusia yang mempertuhankan sesuatu (manusia, hewan, benda, dan lain-lain) selain Allah SWT, tentulah ia orang yang tertipu. Kondisi ini terjadi karena ia kurang bersungguh-sungguh menggunakan akal dan pikirannya, atau ia tidak berkenan berpikir dan berakal. Seorang manusia yang mempertuhankan manusia, tentulah seorang manusia yang tertipu; karena Tuhan Yang Maha Esa telah menyatakan dirinya tidak beranak dan tidak diperanakkan (lihat QS.112).

NIKMATNYA BERISLAM Allah SWT telah berfirman, bahwa Ia telah menyempurnakan nikmatNya bagi manusia, melalui ridhanya terhadap Agama Islam (lihat QS.5:3). Oleh karena itu umat manusia perlu bersyukur kepada Allah SWT, dengan cara mempelajari, dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sebagai nilai-nilai utama (ultimate values). Selain itu, dalam rangka melestarikan nilai-nilai Islam, perlu disiapkan sebagian anggota masyarakat untuk mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh (lihat QS.9:122). Dengan demikian umat manusia mendapat kesempatan untuk menghadapkan diri dengan lurus (sebenar-benarnya) kepada Allah SWT (lihat QS.30:30). Hal ini penting karena contains Agama Islam, yang sesuai dengan fitrah (kondisi asasi) manusia. Hal ini terbukti dari substansi aqidahnya yang valid dan reliable, sebagaimana dimuat dalam QS.112:1-4). Aqidah tersebut berisikan komitmen manusia, bahwa: (1) Allah itu Maha Esa; (2) hanya kepada Allah, manusia mengharapkan dan meminta sesuatu; (3) Allah tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan; serta (4) tak ada sesuatupun yang setara denganNya.

FEEDJIT Live Traffic Feed

Live Traffic Feed A visitor from Indonesia viewed "S O S I O L O G I - D A K W A H: FAKTA SUPRA A visitor from Banjarbaru, RASIONAL" 1 day 18 Kalimantan Selatan hours ago viewed "S O S I O L O G I - D A K W A H: A visitor from Indonesia JANGAN BOROS viewed "S O S I O L O G YAA...." 2 days 16 hours I - D A K W A H: ago PAKAIAN A visitor from Indonesia MASYARAKAT viewed "S O S I O L O G BERADAB" 2 days 21 I - D A K W A H: hours ago SPIRITUAL DAN A visitor from Indonesia TRANSCENDENTAL" viewed "S O S I O L O G 7 days 12 hours ago I - D A K W A H: SPIRITUAL DAN A visitor from Jakarta, TRANSCENDENTAL" Jakarta Raya viewed "S O 9 days 21 hours ago S I O L O G I - D A K W A H: PENOLONG BANGSA PALESTINA" A visitor from Depok, 11 days 13 hours ago Jawa Barat viewed "S O S I O L O G I - D A K W A H: SPIRITUAL DAN TRANSCENDENTAL" A visitor from Indonesia 13 days 15 hours ago viewed "S O S I O L O G I - D A K W A H: SPIRITUAL DAN A visitor from Indonesia TRANSCENDENTAL" viewed "S O S I O L O G 15 days 10 hours ago I - D A K W A H" 20 days 21 hours ago A visitor from Moscow, Moscow City viewed "S O S I O L O G I - D A K W A H" 21 days 4 hours Real-time view · Get Feedjit

Semoga Allah SWT berkenan memberikan hidayah (petunjuk) bagi orangorang yang belum mengerti, bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun boleh jadi Allah SWT telah memberikan petunjuk (melalui nilai-nilai Islam), tetapi orang-orang tersebut tetap membangkang kepada Allah SWT. Dengan kesungguhannya dalam mempertuhankan Allah SWT, maka seorang manusia akan bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah SWT, serta bersungguh-sungguh dalam berkarya dan berikhtiar sebagai bentuk rahmatan lil’alamiin, pada setiap pagi, siang, dan petang. Selain itu pada sepertiga malam ia menyempatkan diri beraudiensi dengan Allah SWT, melalui shalat malam. Allah SWT berfirman dalam QS.6:160, “Barangsiapa yang datang dengan perbuatan baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat. Dan barangsiapa yang datang dengan kejahatan, maka ia tidak dibalas melainkan yang setimpal dengan perbuatannya, dan ia tidak akan dirugikan (melainkan ia sendiri yang merugikan diri sendiri).” Hal-hal sebagaimana yang telah diuraikan menunjukkan tentang terjadinya proses mengekang diri pada seseorang. Ia berupaya mengekang diri untuk tidak melakukan hal-hal yang sia-sia dalam hidupnya. Ia bersungguhsungguh mempertuhankan Allah SWT, dengan segala implikasi logisnya, seperti hidup lebih sederhana (efektif dan efisien), dan lebih bermanfaat (rahmatan lil’alamiin). Dengan kemampuan mengekang diri, maka hidupnya akan lebih tertata, dan lebih memungkinkan baginya mencapai sukses, yaitu menggapai ridha Allah SWT. Sebagai orang yang mampu mengekang diri, maka ia akan: Pertama, membangun komitmen yang kuat untuk tidak berpikir, bertindak, bersikap, dan berperilaku yang bertentangan dengan firman Allah SWT. Kedua, karena Allah SWT juga memerintahkan agar setiap manusia mampu memberi manfaat optimal bagi lingkungannya, maka ia berkomitmen untuk menjadikan pikiran, sikap, tindakan, dan perilakunya bermanfaat optimal bagi lingkungannya. Ketiga, ia bersungguh-sungguh mewujudkan komitmennya seraya memohon pertolongan pada Allah SWT, agar ia dapat mewujudkan komitmennya. Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia. Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

... Diposting oleh ARISTIONO NUGROHO di 02.55 Tidak ada komentar: Link ke posting ini Label: diri, komitmen, manfaat, memohon., mengekang, pertolongan

Beranda

Postingan Lama

Langganan: Postingan (Atom)

BERSYUKUR YUK....! Setiap manusia layaklah bersyukur kepada Allah SWT, Yang Maha Esa, dan yang telah menciptakan semesta alam (alam semesta dan alam akherat). Setiap manusia layak bersyukur, karena Allah SWT Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi segenap ciptaannya. Dalam konteks manusia, hal ini terlihat dari terus menerusnya manusia mendapat program pendampingan dari Allah SWT, berupa pengiriman Rasulullah, yaitu: (1) Adam AS, (2) Idris AS, (3) Nuh AS, (4) Hud AS, (5) Shaleh AS, (6) Ibrahim AS, (7) Ismail AS, (8) Luth AS, (9) Ishak AS, (10) Yaqub AS, (11) Yusuf AS, (12) Syuaib AS, (13) Ayyub AS, (14) Zulkifli AS, (15) Musa AS, (16) Harun AS, (17) Daud AS, (18) Sulaiman AS, (19) Ilyas AS, (20) Ilyasa AS, (21) Yunus AS, (22) Zakaria AS, (23) Yahya AS, (24) Isa AS, dan yang terakhir (25) Muhammad SAW. Oleh karena Muhammad SAW adalah Rasulullah dan NabiAllah yang terakhir, maka Allah SWT memberi manusia melalui Rasulullah Muhammad SAW sebuah Kitab Suci yang merupakan edisi revisi bagi Kitab Suci sebelumnya (Zabur, Taurat, dan Injil) yang telah mengalami intervensi manusia. Kitab Suci yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW merupakan modul, pedoman, guidance, atau panduan bagi manusia dalam menjalani kehidupan di alam semesta. Kitab Suci tersebut bernama "Al Qur'an". Oleh karena itu manusia harus bersyukur kepada Allah SWT. Nikmat yang mana lagi yang akan diingkari manusia? Bila manusia tidak bersyukur! Malu-lah kepada Allah SWT!

LHO KHOK BELUM... Mengapa manusia masih enggan bersyukur kepada Allah SWT? Mungkin karena masih diliputi kesombongan, atau sebagian manusia masih kukuh menganut antroposentrisme (semua berpusat manusia). Inilah fakta yang harus dihadapi oleh setiap muslim dengan penuh kesabaran, dan kerja keras. Berbekal semangat tabligh (informatif), setiap muslim tidak boleh patah semangat dalam menjelaskan kepada "dunia" tentang nilai-nilai Islam. Hal ini merupakan konsekuensi logis umat Islam, sebagai rahmatan lil'alamiin (memberi manfaat bagi alam semesta). Bukankah setiap manusia mengetahui, bahwa sejak Rasululullah pertama (Adam AS) hingga Rasululullah terakhir (Muhammad SAW) selalu ada program pendampingan bagi manusia. Selanjutnya, setelah Rasulullah Muhammad SAW meninggal dunia, Allah SWT menggulirkan program pedoman, berupa Al Qur'an dan Al Hadist. Oleh karena itu, bila saat ini masih ada manusia yang menolak nilai-nilai Islam, itu merupakan pilihan manusia yang bersangkutan, dan ia tentu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Ketika nilai-nilai Islam mengajarkan, bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa; maka manusia-manusia sesat membantahnya dengan mempromosikan atheisme, yaitu keyakinan buta tentang ketiadaan Tuhan. Atheisme dianut oleh manusia-manusia sesat hingga saat ini, meskipun secara konseptual faham ini telah diruntuhkan oleh konsepsi aqidah Islam. Uniknya lagi, para penganut atheisme pada abad ke-19 mengembangkan: Pertama, Steady State Theory, yaitu teori yang menyatakan bahwa alam semesta statis, tidak diciptakan, ada dengan sendirinya, tidak berawal dan tidak berakhir; Kedua, Evolution Theory, yaitu teori yang menyatakan bahwa fisik makhluk hidup (termasuk manusia) berevolusi dengan sendirinya dalam rangka mempertahankan hidup. Ironinya, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, manusia-manusia sesat tetap enggan mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Manusiamanusia sesat ini dengan berbagai alasan dan tipu daya yang dilakukannya sendiri, justru mengajak manusia kembali pada paganisme (penyembahan berhala), yang karena banyaknya berhala-berhala ini (mulai dari benda mati, sampai dengan manusia) maka fahamnya berkembang menjadi politheisme (menyembah banyak tuhan). Untuk mendukung paganisme modern dan politheisme modern yang dianutnya, manusiamanusia sesat ini menyampaikan sebuah konsepsi yang dapat disebut "Social Analogy Theory", yang menyatakan bahwa tuhan dan kehidupannya sama persis dengan manusia dan kehidupannya. Oleh sebab itu penganut Social Analogy Theory menyatakan, bahwa Tuhan itu berkeluarga, memiliki istri, dan memiliki anak. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, tepatlah kiranya bila setiap muslim bersungguhsungguh berupaya menjelaskan nilai-nilai Islam pada "dunia". Bukankah pada abad ke-19 beberapa ahli atau ilmuwan telah memahami: Pertama, Big Bang Theory, yaitu teori yang membuktikan bahwa alam semesta tidaklah ada dengan sendirinya, melainkan diciptakan oleh sesuatu Zat yang Maha Kuasa; Kedua, Intelligent Design Theory, yaitu teori yang membuktikan bahwa ada perancangan cerdas di alam semesta, sehingga diketahui bahwa setiap fisik makhluk telah dirancang secara final atau paripurna; Ketiga, Absolute Power Theory, yaitu teori yang membuktikan bahwa sesuatu disebut Tuhan bila Ia bersifat Maha Kuasa, dan sesuatu bersifat Maha Kuasa bila Ia bersifat Maha Esa, atau ia cukup sendirian saja (tidak rombongan) dalam menciptakan dan mengelola semesta alam (alam semesta dan alam akherat); Keempat, Social Differentiation Theory, yaitu teori yang membuktikan bahwa zat, sifat, dan kehidupan Tuhan berbeda dengan manusia. Teori ini didukung oleh firman Allah SWT dalam QS.112:1-4 (QS. Al Ikhlas).

Carousel

Bagaimana pendapat anda? Apakah blog ini dapat memperkaya wawasan anda?

ABOUT IRAQ WAR

Loading...

S O S I O L O G I - D A K W A H

More Next Blog» Create Blog Sign In S O S I O L O G I - D A K W A H BERBAGI NILAI-NILAI ISLAM, SEBAGAI RAHMATAN LIL'ALAMIIN ABOUT ISLAM TEMPAT YA...

249KB Sizes 4 Downloads 54 Views

Recommend Documents

A h i l i k A n s i k l o - Yumpu
A h i l i k A n s i k l o A h i l i k A n s i k l o p e d i s i 58 Urgancılar Çarşısı, dış örtü sistemi ve yükseklik bak

a l i r i d h o
... salah satunya karena dimensi layangan lebih besar daripada dimensi tubuhnya , tapi daripada pusing baca perang komen

P O L I T I S
keseimbangan diperlukan melalui perencanaan dan perancangan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan daya saing UKM

B A B I P E N D A H U L U A N. I n d o n e s i a s e b a g a i s a l a h s
O k u n m e m p r e d i k s i b a h w a j i k a GDP t u m b u h s e k i t a r 3 % p e r t a h u n, t i n g k a t p e n g

G y m n a s i u m O h m o o r
Fächer werden gemeinsam ein Thema bearbeiten, so dass fächerverbindendes. Arbeiten im Mittelpunkt steht. Das erfolgrei

D o l o r e s D o r a n t e s
De la misma forma el Mictlán (el inframundo -lo que deacae-) y el Tlaticpac (lo que está sobre la tierra -lo que se ma

I N S U L A T I O N
Professionals. Panels made from foam. Expanded Polystryene. (EPS) is the most common. Walls, Floors and. Ceilings; must

W a r s o f c o n c u e s t a r e a l w a v s a c c o p a n i e d b y m p a i g
W a r s o f c o n c u e s t a r e a l w a v s a c c o p a n i e d b y m p a i g from PHIL 105 at Drexel.

∴ S O O Y I I ∴'s collections on Flickr
S O O ▻◅ Y I I ∴ doesn't have any collections. About · Jobs · Blog · Mobile · Developers · Guidelines · Feedback · Repor

W O R K S H E E T S
25 Sep 2016 - Give long answers. If the answer is negative, then give the right answer: Example: Is Sophia from Paris? â